Makalah Tentang " Keterampilan Mengajar "

BAB I

PENDAHULUAN

Keterampilan dasar mengajar  (teaching skills) adalah kemampuan atau keterampilan yang bersifat khusus (most specific instructional behaviors) yang harus dimiliki oleh guru, dosen, instruktur atau widyaiswara agar dapat melaksanakan tugas mengajar secara efektif, efisien dan profesional (As. Gilcman,1991). Dengan demikian keterampilan dasar mengajar berkenaan dengan beberapa keterampilan atau kemampuan yang bersifat mendasar dan harus dikuasai oleh tenaga pengajar dalam melaksanakan tugas mengajarnya.

Dalam mengajar ada dua kemampuan pokok yang harus dikuasai oleh seorang tenaga pengajar, yaitu:

1.    Menguasai materi atau bahan ajar yang akan diajarkan (what to teach)
2.    Menguasai metodologi atau cara untuk membelajarkannya( how to teach)

Keterampilan dasar mengajar termasuk kedalam aspek no 2 yaitu cara membelajarkan siswa. Keterampilan dasar mengajar mutlak harus dimiliki dan dikuasai oleh tenaga pengajar, karena dengan keterampilan dasar mengajar memberikan pengertian lebih dalam mengajar. Mengajar bukan hanya sekedar proses menyampaikan materi saja, tetapi menyangkut aspek yang lebih luas seperti pembinaan sikap, emosional, karakter, kebiasaan dan nilai-nilai.

Seperti yang kita lihat, banyak guru yang bukan professional atau tentor hadir ditengah-tengah para pelajar. Guru yang bukan professional ini sendiri diartikan sebagai guru yang tidak memiliki sertifikat atau ijazah guru.

Guru yang bukan professional atau tentor ini sendiri banyak juga yang bukan merupakan tamatan atau berada di bidang keguruan melainkan dari berbagai macam jurusan. Ada yang berlatarbelakang jurusan Teknik, jurusan Pertanian dll. Dimana mereka disini pastinya tidak mengetahui dengan pasti bagaimana kesiapan dan keterampilan dalam mengajar yang harus dimiliki seorang pengajar. 

Objek yang digunakan dalam penelitian ini adalah 5 orang tentor dari dua bimbingan belajar yang berbeda. 3 orang tentor dari bimbingan belajar OSCI dan 2 tentor dari bimbingan belajar AEC.

Adapun teori yang terdapat pada buku  (Santrock, J.W. 2008. Psikologi Pendidikan) mengenai cara mengajar yang efektif dimana guru diharapkan menguasai berbagai macam perspektif dan strategi dan harus bisa memgaplikasikannya secara fleksibel. Hal itu membutuhkan dua hal yang utama: (1) pengethauan dan keahlian profesional, dan (2) komitmen dan motivasi. Selain itu, kami juga menggunakan teori mengajar (antara ilmu dan seni) (Santrock, J.W. 2008. Psikologi Pendidikan)
(Syah,Muhibbin.1995.Psikologi Pendidikan-Pendekatan Baru).

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keterampilan para tentor dalam mengajar sesuai dengan teori cara mengajar yang efektif  dan Mengajar ( antara seni dan Ilmu ) (Santrock, J.W. 2008. Psikologi Pendidikan). 
Keterampilan mengajar bagi seorang guru adalah sangat penting kalau ia ingin menjadi seorang guru yang profesional, jadi disamping dia harus menguasai sumbstansi bidang studi yang diampu, keterampilan dasar mengajar juga adalah merupakan keterampilan penunjang untuk keberhasilan dia dalam proses belajar mengajar.
Sari dari keterampilan dasar mengajar ini diambil dari berbagai sumber dimana bahan ini digunakan untuk para mahasiswa yang melakukan praktek mengajar di sekolah sebelum dia bekerja sepenuhnya sebagai seorang guru.


BAB II
PEMBAHASAN

Dari teori psikologi pendidikan “Santrock.,J.W.(2008).Psikologi pendidikan (edisi kedua). Jakarta:Prenada Media Group”. yang ada mengenai cara mengajar yang efektif oleh seorang pengajar, terdapat dua hal yang utama, yaitu pengetahuan dan keahlian professional, serta komitmen dan motivasi. 

Pengetahuan dan keahlian professional itu sendiri mencakup : 

Penguasaan materi pelajaran

Guru yang efektif harus berpengethauan, fleksibel dan memahami materi. Tentu saja, pengethauan subjekk pengetahuan subjek materi bukan hanya mencakup fakta, istilah, dan organisasian materi, mengaitkan beberapa gagasan, cara berpikir, dan beragumen, pole perubahan dalam satu mata pelajaran, kepercayaan tentang mata pelajaran dan kemampuan untuk mengaitkan satu gagasan dari suatu disiplinn ilmu ke displin ilmu lainnya,

Strategi pengajaran

Konstruktivisme menekankan agar inidividu secara aktif menyusun dan membangun pengetahuan dan pemahaman, guru bukan sekadar memberi informasi kepikiran anak, akan tetapi guru harus mendrong anak untuk mengeksplorasi dunia meeka, menemukan pengetahuan, merenung dan berpikir secara kritis. 

Penetapan tujuan dan keahlian perencanaan instruksional

Guru menghabiskan waktu untuk menyusun rencana instruksional, megorganisasikan pelajaran agar murid meraih hasil yang maksimal dari kegiatan belajarnya.

Keahlian manajemen kelas

Guru yang efektif mampu menjaga kelas aktif bersama dan mengorientasikan kelas ke tugas-tugas. Guru yang efektif membangun dan mempertahankan lingkungan belajar yang kondusif.





Keahlian motivasional

Guru yang efektif punya strategi yang baik untuk memotivasi murid agar mau belajar.

Keahlian komunikasi

Keahlian komunikasi yang juga amat diperlukan untuk mengajar adalah keahlian dalam berbicara, mendengar, mengatasi hambatan komunikasi verbal dan memahami komunikasi nonverbal dari murid, dan mampu memecahkan konflik secara konstruktif. 

Mengajar Antara SENI  dan ILMU
Dari teori psikologi pendidikan pula dinyatakan mengajar sebagai suatu “seni” dan “ilmu pengetahuan”, disini dimaksudkan bahwa bagaimana seorang pengajar menggunakan pendekatan mengajar yang ilmiah serta bagaimana kesiapan mengajar berperan penting bagi keberhasilannya sebagai pengajar.  
1. Mengajar sebagai ilmu 

    Sebagian ahli memndang mengajar sebagai ilmu ( science ). Oleh karenanya, guru merupakan sosok pribadi manusia yang memang sengaja dibangun untuk menjadi tenaga opicanal yang memiliki profesiensi (berpengetahuan dan berkemampuan tinggi) dalm dunia pendidikan yang berkompentenuntuk melakukan tugas mengajar.
Siapapun, asal memiliki profesiensi dalam bidang ilmu pendidikan akan mampu melakukan perbuatan mengajar dengan baik. Penguasaan seseorang guru atas materi pelajaran bidang tugasnya adalah juga penting, tetapi yang lebih penting ialah penguasaanya atas ilmu-ilmu yang berhubungan dengan tugas mengajarnya.    
2. Mengajar sebagai Seni 

    Sebagian ahli lainnya memandang bahwa mengajar adalah seni (art) bukan ilmu. Oleh karenanya, tidak semua orang berilmu (termasuk orang yang berilmu pendidikan ) menjadi guru yang piawai dalam hal mengajar. Memang sulit disangkal bahwa untuk menjadi seorang guru yang topicanal orang harus belajar dan berlatih di lingkungan instansi pendidikan keguruan selama bertahun-tahun. Namun kenyataan lain menunjukkan bahwa dalam mengajar terdapat topic “tertentu” yang abstrak dan topic mustahil dipelajari. Bahkan topic misterius ini tak dapat diterangkan dengan jelas. Sementara itu aliran lainnya menganggap mengajar sebagai seni yang mengacu pada bakat sejak lahir tak berbeda dengan gagasan bahwa gru itu dilahirkan bukan dibangun atau dibuat. Dalam hal ini, orang dapat menjsdi guru yang baik karena ia berbakat menjadi guru. Dengan kata lain, sesorang menjadi guru yang baik atau guru yang buruk bukan karena hasil belajarnya melainkan karena potensinya yang ia bawa sejak lahir. Aliran ini menimbulkan anggapan yang ekstrem bahwa profesi mengajar itu tidak dapat dipelajari, atau dengan kata lain sia-sia orang mempelajari ilmu keguruan kalau ia tidak mempunyai bakat. Sebaliknya, orang yang memang bakat mengajar dapat menjadi guru yang baik, meskipun tidak pernah belajar teori dan praktik keguruan. Untuk menjadi guru yang kompeten, orang perlu belajat dan berlatih secara bersungguh-sungguh selama kurun waktu yang lama. Akan tetapi kenyataannya tidak semua orang ynag mengikuti pendidikan pelatihan keguruan berhasil mencapai kinerja akademik keguruan yang memadai, meskipun mereka telah menunjukkan usaha yang terkadang melebihi rekan sejawatnya yang ternyata lebih berhasil.

Alhasil, antara mengajar sebagai ilmu dengan mengajar sebagai seni itu terdapat benang merah  yang membuat keduanya saling terikat dan saling mempengaruhi satu sama lain. Dengan demikian, hubungan antara bakat keguruan dengan proses belajar yang sesuai dengan bakat itu, ibarat hubungan anatara dua sisi mata uang logam yang berfungsi saling melengkapi.

8 Keterampilan Dasar Yang Harus Di Miliki Seorang Guru

Pada kenyataannya dewasa ini banyak para guru yang mengajar dengan pola tradisional dan mengabaikan keterampilan-keterampilan yang sangat mendasar ini. Padahal 8 (delapan) keterampilan dasar bagi seorang guru sangatlah penting, karena menyangkut efektifitas pencapaian tujuan pembelajaran, berikut ini penulis menyajikan 8 (delapan) keterampilan dasar bagi seorang guru dalam pengelolaan kelas di kegiatan belajar dan mengajar.

1. Ketrampilan Bertanya
Pada hakikatnya melalui bertanya kita akan mengetahui dan mendapatkan informasi tentang apa saja yang ingin kita ketahui. Dikaitkan dengan proses pembelajaran maka kegiatan bertanya jawab antara guru dan siswa, atara siswa ini menunjukan adanya ineraksi dikelas yang di dinamis dan multi arah. Kegiatan bertanya akan lebih efektif bila pertanyaan yang diajukan cukup berbobot, mudah dimengerti atau relevan dengan opic yang dibicarakan. Tujuan guru mengajukan pertanyaan anatra lain adalah :
1.      Menimbulkan rasa keingintahuan
2.      Merangsang fungsi berpikir
3.      Mengembangkan keterampilan berpikir
4.      Memfokuskan perhatian siswa
5.      Mendiagnosis kesulitan belajar siswa
6.      Menkomunikasikan harapan yang diinginkan oleh guru dari siswanya
7.      Merangsang terjadinya diskusi dan memperlihatkan perhatian terhadap gagasan dan terapan siswa sebagai subjek didik.
Keterampilan bertanya ini mutlak harus dikuasai oleh guru baik itu guru pemula maupun yang sudah opicanal karena dengan mengajukan pertanyaan baik guru maupun siswa akan mendapatkan umpan balik dari materi serta juga dapat menggugah perhatian siswa atau peserta didik.  Komponen-komponen dan prinsip-prinsip dalam ketrampilan bertanya: Bertanya Dasar dan Bertanya Lanjut, Teknik Bertanya, Jenis pertanyaan.


2.   Ketrampilan Memberikan Penguatan

Penguatan adalah respons terhadap suatu perilaku yang dapat meningkatkan kemungkinan berulangnya kembali perilaku itu. Teknik pemberian penguatan dalam kegiatan pembelajaran dapat dilakukan secara verbal dan nonverbal. Penguatan verbal merupakan penghargaan yang dinyatakan dengan lisan, sedangkan penguatan nonverbal dinyatakan dengan gerakan tubuh, pemberian sesuatu, dan lain-lainnya. Dalam rangka pengelolaan kelas, dikenal penguatan positif dan penguatan. Penguatan positif bertujuan untuk mempertahankan dan memelihara perilaku positif, sedangkan penguatan merupakan penguatan perilaku dengan cara menghentikan atau menghapus rangsangan yang tidak menyenangkan. Manfaat penguatan bagi siswa untuk meningkatnya perhatian dalam belajar, membangkitkan dan memelihara perilaku, menumbuhkan rasa percaya diri. Komponen dan Prinsip-prinsip Keterampilan Memberi Penguatan Komponen-komponen itu adalah : Penguatan verbal, diungkapkan dengan menggunakan kata-kata pujian, penghargaan, persetujuan dan sebagainya. Dan penguatan non-verbal, terdiri dari penguatan dan gerakan badan, penguatan dengan cara mendekati, penguatan dengan sentuhan (contact), penguatan dengan kegiatan yang menyenangkan.

3. Ketrampilan Mengadakan Variasi

Dalam kegiatan pembelajaran, pengertian variasi merujuk pada tindakan dan perbuatan guru, yang disengaja ataupun secara spontan, yang dimaksudkan untuk memacu dan mengikat perhatian siswa selama pelajaran berlangsung. Tujuan utama guru mengadakan variasi dalam kegiatan pembelajaran untuk mengurangi kebosanan siswa sehingga perhatian mereka terpusat pada pelajaran. Komponen-komponen Keterampilan Mengadakan Variasi Keterampilan mengadakan variasi terdiri dari tiga kelompok pokok, yaitu ; Variasi dalam cara/gaya mengajar guru, Variasi dalam penggunaan media dan alat pengajaran, Variasi pola interaksi dan kegiatan siswa.

4. Ketrampilan Menjelaskan

Yang dimaksud dengan ketrampilan menjelaskan adalah penyajian informasi secara lisan yang diorganisasikan secara sistematik untuk menunjukkan adanya hubungan yang satu dengan yang lainnya. Komponen-komponen ketrampilan menjelaskan terbagi dua, yaitu :Merencanakan, hal ini mencakup penganalisaan masalah secara keseluruhan, penentuan jenis hubungan yang ada diantara opic-unsur yang dikaitkan dengan penggunaan, rumus yang sesuai dengan hubungan yang telah ditentukan. Dan penyajian suatu penjelasan, dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut : kejelasan, penggunaan contoh dan ilustrasi, pemberian tekanan, dan penggunaan balikan. Pentingnya penguasaan keterampilan menjelaskan bagi guru adalah dengan penguasaan ini memungkinkan guru dapat meningkatkan efektivitas penggunaan waktu dan penyajian penjelasannya, merangsang tingkat pemahaman siswa, membantu siswa memperluas cakrawala pengetahuannya, serta mengatasi kelangkaan buku sebagai sarana dan sumber belajar. Kegiatan menjelaskan dalam kegiatan pembelajaran bertujuan untuk membantu siswa memahami berbagai konsep, , prosedur, dan sebagainya secara objektif, membimbing siswa memahami pertanyaan, meningkatkan keterlibatan siswa, siswa kesempatan untuk menghayati proses penalaran serta memperoleh balikan tentang pemahaman siswa.

5.             Ketrampilan Membuka Dan Menutup Pelajaran

a. Membuka Pelajaran
Kalimat-kalimat awal yang diucapkan guru merupakan penentu keberhasilan jalannya seluruh pelajaran. Tercapainya tujuan pengajaran bergantung pada metode mengajar guru di awal pelajaran. Seluruh rencana dan persiapan sebelum mengajar dapat menjadi tidak berguna jika guru gagal dalam memperkenalkan pelajaran. Komponen-komponen dan prinsip-prinsip dalam membuka pelajaran: Hubungan dengan Kelas. Ada banyak hal yang masih memikat perhatian murid di luar ruangan kelasnya. Hal tersebut dapat membuat murid tidak memerhatikan pelajaran yang disampaikan. Untuk mengatasi hal ini, guru dapat menetapkan titik hubungan antara murid dan pelajaran yang disampaikan. Pembukaan pelajaran harus sesuai dengan minat dan kebutuhan murid. Guru juga harus dapat membangkitkan minat belajar sampai murid dapat memusatkan perhatian mereka kepada pelajaran. Pembukaan pelajaran dengan metode yang terbaik pun tidak manfaatnya jika tidak mampu membawa murid untuk memusatkan perhatian mereka. Menghubungkan Pelajaran. Hubungkan pelajaran dengan pelajaran-pelajaran sebelumnya. Setiap pelajaran baru yang diajarkan merupakan bagian dari kurikulum yang sudah ditetapkan. Pelajaran itu harus dihubungkan dengan pelajaran-pelajaran lain agar menarik perhatian murid dan menajamkan pengertian mereka terhadap rangkaian pelajaran tersebut. Dan kita dapat menyajikannya dengan lebih menarik, tetapi penuh dengan keterangan. Penyampaian pokok pelajaran harus menarik minat murid seperti halnya penyampaian pokok berita dalam sebuah surat kabar. Menguraikan Pelajaran. Setelah memperkenalkan pelajaran, guru harus mengajarkan pelajaran sesuai dengan rencana yang telah disiapkan. Mutu persiapan dapat terlihat pada waktu pengajaran itu disampaikan. Satu hal yang perlu diingat, jika tidak ada murid yang belajar dari pengajaran tersebut, itu berarti guru belum mengajarkan pelajaran itu.


b. Menutup Pelajaran

Jangan akhiri pelajaran dengan tiba-tiba. Penutup harus dipertimbangkan dengan sebaik mungkin agar sesuai. Guru perlu merencanakan suatu penutup yang tidak tergesa-gesa dan juga dengan doa sekitar tiga sampai lima menit. Komponen-komponen dan prinsip-prinsip dalam menutup pelajaran: Merangkum Pelajaran. Sebagai penutup, hendaknya guru memberikan ringkasan dari pelajaran yang sudah disampaikan. Ringkasan pelajaran sudah tidak lagi berupa diskusi kelas atau penyampaian garis besar pelajaran, tetapi berisi ringkasan dari hal-hal yang disampaikan selama jam pelajaran dengan menekankan fakta dasar pelajaran tersebut. Menyampaikan Rencana Pelajaran Berikutnya. Waktu menutup pelajaran merupakan saat yang tepat untuk menyampaikan rencana pelajaran berikutnya. Guru dapat memberikan kilasan pelajaran untuk pertemuan berikutnya. Diharapkan hal ini dapat merangsang keinginan belajar mereka. Sebelum kelas dibubarkan, ungkapkanlah pelajaran yang akan disampaikan minggu depan dan kemukakan rencana-rencana di mana murid dapat mengambil bagian dalam pelajaran mendatang. Bangkitkan minat. Guru tentu ingin murid-muridnya kembali di pertemuan berikutnya dengan penuh semangat. Oleh karena itu, biarkan murid pulang ke rumah mereka dengan satu pertanyaan atau pernyataan yang mengesankan, yang dapat membangkitkan minat dan rasa ingin tahu mereka. Sama seperti seorang penulis yang mengakhiri sebuah bab dalam cerita bersambung, yang membuat pembaca ingin segera tahu bab berikutnya. Dengan cara yang sama, guru dapat mengakhiri pelajarannya dengan penutup yang “berklimaks” sehingga seluruh kelas menantikan pelajaran berikutnya dengan tidak sabar. Memberikan tugas. Tugas-tugas harus direncanakan dengan saksama. Perlu diingat pula sikap guru yang bersemangat dalam memberikan tugas akan mempengaruhi minat dan semangat para anggota kelas.(Benson : 80-85).



6. Keterampilan Membimbing Diskusi Kelompok Kecil

Diskusi kelompok adalah suatu proses yang teratur yang melibatkan sekelompok orang dalam interaksi tatap muka yang informal dengan berbagai pengalaman atau informasi, pengambilan kesimpulan, atau pemecahan masalah. Diskusi kelompok merupakan strategi yang memungkinkan siswa menguasai suatu konsep atau memecahkan suatu masalah melalui satu proses kesempatan untuk berpikir, berinteraksi, serta berlatih bersikap positif. Dengan demikian diskusi kelompok dapat meningkatkan kreativitas siswa, serta membina kemampuan berkomunikasi termasuk di dalamnya ketrampilan berbahasa.



7. Ketrampilan Mengelola Kelas
Pengelolaan kelas adalah ketrampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses belajar mengajar. Komponen-komponen dan prinsip-prinsip Ketrampilan mengelola kelas yaitu, prefentip adalah yang berkaitan dengan kemampuan guru dalam mengambil inisiatif dan mengendalikan pelajaran dan  represif, yaitu berkaitan dengan respons guru terhadap gangguan siswa yang berkelanjutan dengan maksud agar guru dapat mengadakan tindakan remedial untuk mengembalikan kondisi belajar yang optimal.

8. Ketrampilan Mengajar Kelompok Kecil dan Perseorangan

Secara fisik bentuk pengajaran ini ialah berjumlah terbatas, yaitu berkisar antara 3 sampai 8 orang untuk kelompok kecil, dan seorang untuk perseorangan. Pengajaran kelompok kecil dan perseorangan memungkinkan guru memberikan perhatian terhadap setiap siswa serta terjadinya hubungan yang lebih akrab antara guru dan siswa dengan siswa. Format mengajar ini ditandai oleh adanya hubungan interpersonal yang lebih akrab dan sehat antara guru dengan siswa, adanya kesempatan bagi siswa untuk belajar sesuai dengan kemampuan, minat, cara, dan kecepatannya, adanya bantuan dari guru, adanya keterlibatan siswa dalam merancang kegiatan belajarnya, serta adanya kesempatan bagi guru untuk memainkan berbagai peran dalam kegiatan pembelajaran. Setiap guru dapat menciptakan format pengorganisasian siswa untuk kegiatan pembelajaran kelompok kecil dan perorangan sesuai dengan tujuan, (materi), kebutuhan siswa, serta waktu dan fasilitas yang tersedia. Komponen-komponen dan prinsip-prinsip ketrampilan ini adalah: Ketrampilan mengadakan pendekatan secara pribadi, Ketrampilan mengorganisasi, ketrampilan membimbing dan memudahkan belajar, Ketrampilan merencanakan dan melaksanakan kegiatan belajar mengajar, Keterampilan merancang dan melaksanakan kegiatan pembelajaran. 

KEBERANIAN AKAN MENDATANGKAN KEAJAIBAN (GOETHE)
Komunikasi merupakan bagian yang sangat erat kaitannya dengan kegiatan belajar mengajar. Hampir 90% kegiatan belajar mengajar menggunakan kemampuan komunikasi. Keterampilan komunikasi dicirikan oleh empat hal yaitu:
berbicara, mendengar, menulis dan  membaca. Dari keempat keterampilan tersebut kita jarang sekali mengajarkan anak didik kita untuk mendengar dengan aktif. Apakah mendengar aktif itu? Mendengar aktif adalah kemampuan untuk menyimak dan merasakan maksud pembicaraan dari lawan bicara.
Seseorang dapat dikatakan mampu mendengar aktif apabila:
  • tidak memotong pembicaraan
  • mampu membaca bahasa tubuh
  • rasa peduli yang sangat dalam karena kesabaran dan menahan diri untuk tidak memberi komentar
Mendengar aktif  sangat penting untuk medidik anak agar memiliki empati dan menelaah informasi yang diberikan. Dalam hal ini anak didik dilatih untuk menyertakan hati saat mengolah informasi sehingga dapat menghasilkan pendapat yang bijaksana dan menuntun perilaku menjadi lebih positif. Kegiatan mendengar aktif merupakan cara untuk meningkatkan kecakapan emosi positif. Seseorang yang memiliki emosi positif dapat memancarkan gagasan baru yang  kreatif serta menyeimbangkan potensi kognitif, afektif dan psikomotorik.
Masalah yang bisa menyebabkan turunnya motivasi kerja adalah:
  • perasaan malu karena berprofesi sebagai guru
  • perasaan minder karena tingkat pendidikan yang rendah
  • suasana kerja yang tidak kondusif
  • kesempatan untuk meningkatkan kualitas pribadi yang terbatas
  • niat yang salah
  • perasaan tidak berguna karena memiliki keterampilan yang pas-pasan
  • ketidakpuasan dengan honor yang kecil
  • sulit dan tingginya kualifikasi dalam  sistem perekrutan tenaga pendidik
  • sering menemukan kegagalan dalam menjalankan profesi ini
Tanpa kita sadari, anak didik dapat dengan cepat menilai apakah kita termasuk guru yang profesional atau tidak. Indikatornya adalah melihat semangat guru dalam mengajarkan materi, wawasan dan kemampuan memberikan ulasan, menguasai IT, mampu mengambil keputusan dengan sikap percaya diri dan tepat, dapat memberikan solusi bagi permasalahan anak didik atau lingkungan kerjanya, senang humor,  serta selalu berpenampilan menarik. Guru seperti ini dapat menjadi  inspirastor, motivator, katalisator, fasilitator dan konselor  bagi siswa. Memang saat ini untuk mendapatkan The best teacher perlu dilakukan  standarisasi dan uji kompetensi. Hal ini sangat erat  kaitannya dengan pengembangan dan peningkatan kemampuan guru di era globalisasi. Untuk menghasilkan SDM yang berkualitas maka harus dididik oleh guru unggulan yang berpendidikan tinggi, kreatif, inovatif, melek IT, memiliki manajemen waktu yang efisien dan efektif serta SEJAHTERA. Mengapa kesejahteraaan sangat penting? Seorang guru yang hidupnya sejahtera, tercukupi kebutuhan dasarnya maka Ia tidak akan mudah menduakan profesi gurunya dengan yang lain. Bagaimana caranya agar motivasi itu kembali, kemudian dapat merubah performa kita menjadi guru unggulan?
  • jangan malu mengakui profesi ini terhadap siapapun,
  • hargai nilai kegagalan, karena kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda. Anggaplah kegagalan menjadi isyarat kita untuk berubah
  • miliki rasa humor
  • belajar dari pengalaman orang-orang yang sukses
  • bermain musik/mendengarkan musik/lagu atau menonton film untuk mendapatkan inspirasi
  • menjaga kebugaran tubuh dan gaya hidup yang sehat
  • terus belajar untuk menjadi lebih baik setiap saat
  • selalu bersyukur dengan apa yang dimiliki agar bahagia
  • tingkatkan kemauan dan kemampuan untuk melihat peluang pada profesi yang dijalani


BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan

Keterampilan dasar mengajar guru adalah kemampuan atau keterampilan yang khusus (most spesifis instructional behaviours) yang harus dimiliki oleh guru, dosen, instruktur atau widyaiswara agar dapat melaksanakan tugas mengajar secara efektif, efisien dan professional

Keterampilan Dasar Mengajar ini adalah :
1. Keterampilan Bertanya
2. Keterampilan Memberi Penguatan
3. Keterampilan Mengadakan variasi
4. Keterampilan Menjelaskan
5. Keterampilan Membuka dan Menutup Pelajaran
6. Keterampilan Memimpin Diskusi Kelompok Kecil
7. Keterampilan Mengelola Kelas
8. Keterampilan Mengajar Kelompok Kecil dan Perorangan

B. Saran
Agar lebih dapat mengoptimalkan peran guru dalam proses pembelajaran, maka guru dituntut memiliki keterampilan dasar mengajar. Sehingga pada pada akhirnya nanti proses belajar mengajar bisa menjadi lebih efektif dan efisien.
C. Implementasi
  • jangan malu mengakui profesi ini terhadap siapapun,
  • hargai nilai kegagalan, karena kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda. Anggaplah kegagalan menjadi isyarat kita untuk berubah
  • miliki rasa humor
  • belajar dari pengalaman orang-orang yang sukses
  • bermain musik/mendengarkan musik/lagu atau menonton film untuk mendapatkan inspirasi
  • menjaga kebugaran tubuh dan gaya hidup yang sehat
  • terus belajar untuk menjadi lebih baik setiap saat
  • selalu bersyukur dengan apa yang dimiliki agar bahagia
  • tingkatkan kemauan dan kemampuan untuk melihat peluang pada profesi yang dijala

Daftar Pustaka :
Santrock.,J.W.(2008).Psikologi pendidikan (edisi kedua). Jakarta:Prenada Media Group
Slavin. R.E. (2009). Psikologi Pendidikan Teori dan Praktek. Edisi Ke delapan. Jilid 1 dan 2. Jakarta. PT.Index.
Edi Soegito dan Yuliani Nurani ,Kemampuan Dasar Mengajar, . PT. Remaja Rosdakarya Baru Bandung: 2007

Download Makalah Lengkap nya Dalam Bentuk File MS.Word Gambar Dibawah ini :


Selamat Membaca & Selamat Mendownload, Jangan Lupa Tinggalkan Komentar :)
Mari Kita Saling Membagi Ilmu Untuk Kemajuan Bangsa Indonesia.

ads

Ditulis Oleh : Belajar Yuk!!! Hari: 8:28 AM Kategori: